Wednesday, July 25, 2012

Review Novel: Uesugi Kenshin


Judul buku          : Uesugi Kenshin: Daimyo Legendaris dari Kasugayama
Penulis                : Eiji Yoshikawa
Penerjemah         : Ribeka Ota
Penerbit               : Mahda Books
Genre                  : Fiksi Sejarah
Tahun terbit         : Mei 2012
Tebal halaman    : 388 halaman

Mendengar nama Eiji Yoshikawa, mengingatkan kita pada novel-novel legendaris bergenre fiksi sejarah seperti Musashi, Taiko, dan lain-lain. Yoshikawa memang banyak menulis karya dengan pengaruh dan latar belakang sejarah seperti sejarah Jepang dan Cina. Novel-novel tersebut bukanlah cerita asli atau pun kisah nyata. Karya-karyanya seperti bentuk dari penceritaan kembali dari pelbagai sejarah dengan menggunakan bahasa yang mudah dicerna. Melalui novel, Yoshikawa ingin menumbuhkan minat pembaca terhadap sejarah Jepang dan cara ini berhasil.

Uesugi Kenshin merupakan salah satu novel hasil karyanya yang baru saja diterbitkan oleh Mahda Books dalam bahasa Indonesia. Novel ini bercerita tentang Daimyo muda yang disegani bernama Uesugi Kenshin pada zaman Sengoku. Kenshin adalah daimyo muda dari negeri Echigo. Ia mendapat nama Uesugi dari shogun bernama Uesugi Norimasa yang meminta bantuan kepadanya untuk mengepung klan Hojo yang menyerang negeri-negeri kecil. Kenshin memiliki sifat yang sensitif, namun setelah mendalami Zen, sifatnya berubah drastis menjadi lebih tenang dan lebih mengonsentrasikan kekuatan batin dalam meraih impiannya. Berkat Zen pula, ia menjadi daimyo yang bijak serta adil bahkan terhadap musuhnya sendiri. Samurai pemberani dan pantai menyerah yang menjadi daimyo legendaris dari Kasugayama.  

Cerita diawali dari adanya wilayah yang dikuasai oleh para daimyo. Mereka berlomba-lomba untuk memperluaskan wilayah kekuasaannya dengan merebut dan berperang. Salah satu daimyo yang berambisi menguasai wilayah-wilayah di sekitarnya adalah Takeda Shingen. Shingen adalah seorang samurai yang terampil baik dalam berperang maupun dalam taktik politik. Dia menjadi musuh bebuyutan Kenshin hingga pada tahun pertama era Eiroku (1558), mereka berdua berjanji untuk saling bersahabat dan tidak saling menyerang. Walaupun tanpa melakukan aksi perang, Shingen tetap melakukan aksi gelap dengan menyebarkan mata-mata dan menyusup ke wilayah-wilayah yang ingin dikuasainya termasuk wilayah kekuasaan Kenshin.

Suatu hari saat perjanjian sudah berlangsung selama empat tahun, salah satu kastel yang dikuasai Kenshin, Kastel Warigadake, direbut oleh pasukan Shingen saat Kenshin sedang melakukan penyerangan ke Klan Hojo, akibatnya seluruh pasukan dari pihak Kenshin terbunuh. Kenshin yang selama ini menjunjung tinggi perjanjian yang telah disepakati dengan Shingen sangat marah dengan tindakan musuh bebuyutannya itu. Shingen telah mengingkari janjinya. Kastel Warigadake adalah kastel yang berlokasi di tempat strategis dan bernilai penting. Jika berhasil direbut pasukan Shingen, gerakan pasukan Echigo akan terhambat ke selatan dan timur.

Berbulan-bulan setelah penyerangan kastel Warigadake tidak ada tindakan apapun dari Kenshin. Hal ini membuat banyak pasukan yang tidak sabar dengan tindakan Kenshin. Kenshin akhirnya mengambil keputusan untuk menyerang kubu Shingen dengan taktik yang tidak diduga oleh Shingen. Hingga akhirnya, perang Kawanakajima pun pecah.

Tindakan dan sifat Kenshin pada perang Kawanakajima inilah yang menjadi focus utama gambaran seorang Uesugi Kenshin. Di perang Kawanakajima, sebagai pemimpin pasukan, segala tindakan dan taktik Kenshin patut diacungi jempol. Tindakan-tindakan itulah yang disegani para pasukannya dan menjadi penyemangat. Selain itu, Kenshin juga suka membantu wilayah lain walaupun wilayah tersebut adalah wilayah Shingen, musuhnya sendiri. Sifat tenang, adil, dan bijaksana tidak dapat dilepaskan dari sosok Uesugi Kenshin.

Novel ini menggambarkan ketenangan Uesugi Kenshin saat menghadapi situasi yang tidak menguntungkan. Taktik cerdas yang digunakan Kenshin membuat Shingen berpikir keras untuk mengalahkan Kenshin. Dengan tebal 388 halaman, novel ini terbagi dalam banyak bab namun isinya pendek sehingga pembaca dapat mudah  mencerna isi cerita. Karena novel ini berlatar belakang sejarah, munculnya banyak nama terkadang menyulitkan saya sebagai pembaca. Namun, Yoshikawa menyuguhkan cerita yang menarik dan membawa pembaca seperti berada dalam suasana perang Kawanakajima sehingga banyaknya nama tidak menjadi suatu keluhan berarti.

                    

                    Puput